Generasi Sandwich atau Birrul Walidain
Haloooooo semuanya, makasih ya udah coba mampir di blog ini. Yaaa mungkin ini bisa jadi inspiratif untuk kalian.
//////////////////////////////////////////////////////////////////////////
Aku bingung mau mulai dari mana karena rasanya campur aduk banget.
Sebenarnya tuh, akhir tahun 2024 dan awal tahun 2025 ujiannya kayak rollercoster. Sebenarnya udah pernah sih ngadepin ujian yang kek gini dan akhirnya selesai juga. Gak kaget karena udah tau harus melalukan apa ketika ujian itu datang.
Aku cuman percaya, Allah kita yang paling baik dan paling sayang sama hambanya gak mungkin salah orang untuk dikasih sebuah amanah kan. Prinsip itu yang ku pegang dari kecil sampai sekarang tauuu.
Kenapa dari kecil?
yaaa, karena aku udah terbiasa sama ujiannya dan aku selalu dapat rangking 1 dari Allah ketika berhasil melewatinya. Bahkan teman terdekat ku gak tahu sedetail itu tentang permasalahan yang aku hadapi. Mereka cukup tahu, aku ada bersama mereka dalam keadaan selalu ceria dan ketawa.
Aku peka banget sama love language yang Allah kasih ke aku dan keluarga. Walaupun ada sedikit kesal dari orang sekitar yang selalu meremehkan ekonomi keluarga ku. Mana ada orang yang mau hidupnya susah yakan. Tapi di balik mereka meremehkan itu, ternyata ada sosok anak perempuan paling kuat yang hadir sebagai perisai orang tua nya.
Lahir di keluarga sederhana, yang ekonominya belum bisa kayak orang-orang bisa beli ini itu tanpa harus mikirin "Kalau dibelikan ini itu, keknya bisa untuk uang belanja sayur 3 hari deh"uhhhhh (tarik nafas aku). Kata siapa sih aku gak pernah iri sama sepupu ku yang selalu lancar jaya dibelikan ini itu tanpa mikirin apapun. Anak perempuan yang selalu dibilang "sabar yaaa" setiap pengen sesuatu.
Bahkan untuk beli pita-pita lucu di pekan jum'at, tuh anak harus nabung uang jajan 2000 nya setiap hari dan betapa irinya liat temen baru di kelasnya jago bahasa inggris karena di leskan. Anak perempuan itu bahkan gak punya kamus bahasa inggris di kelas 4 SD. Namun dibalik itu, Allah kasih nih rezeki lewat ibu tetangganya untuk nawarin jualan cokelat di sekolah. Anak perempuan itu langsung ambil kesempatan emas itu dong. Hasil jualannya dipake untuk uang belanja ibunya dan pastinya beli kamus juga mwheheh.
Di sisi lain, anak perempuan itu juga pernah ngawani ibunya keliling jualan opak ubi. Terus pulangnya, selalu di ajak makan mie sop berdua. Manis banget moment-moment berdua waktu itu. Jangan salah sangka, anak perempuan itu gak pernah melupakan keambisannya di sekolah atau di ngajiannya. Disekolah selalu berusaha untuk dapat 5 besar (Alhamdulillah selalu dapat), ngaji dua tempat (pagi di madrasah, malam di masjid). Hahaha, keknya tuh anak gak pernah cape kali yaa, heran kali gak bisa diam. Di ngajian alhamdulillah selalu dapat rangking 3, ya mayan lah bisa buat bapaknya bangga sama anak perempuannya.
Dari segala keirian anak kecil itu yang gak bisa dituruti semuanya, akhirnya dia berusaha sendiri untuk menggapainya. Nabung untuk beli sepeda, beli tas, atau bahkan beli boneka barbie yang bisa nyanyi"itu. Satu hal yang aku syukuri, keluarga ku gak pernah lupa untuk ngajarin karakter yang oke, baik itu di keluarga maupun di luar. Kadang hal lucu terlintas di pikiran ku waktu SMA, kenapa sih atok ku dulu merantau ke Medan, kenapa gak tetap di Dolok Masihul yang jelas-jelas pembagian tanah dimulai dari warisan buyut ku yang Raja. Walaupun terlahir dari keluarga darah biru ternyata ga menjamin kehidupan seperti kerajaan ya wkwk. Kalo kata bapak ku sih kakek ku dulu gamau ributin pembagian tanah yang buanyakkkk kali itu jadi milih merantau ke medan bawa anak-istrinya. Panjang ceritanya kalo bahas silsilah keluarga dah kek dongeng.
Kita lupakan masalah kerajaan tadi dan kembali ke realita penuh perjuangan. Kalian tahu gak sih, aku anak yang bodo amatan sama omogan orang ketika aku berusaha mencari pundi-pundi dolar supaya bisa mamak ku masak. Aku menyadari sesuatu ketika SMA, mamak ku bakal tetap happy kalau dapur itu bisa buat dia masak. Jangan kan ada emas di telinga dan pergelangan tangannya, anaknya bisa sekolah dengan tenang aja udah syukur kali. Aku berusah tutup telinga ketika kawan-kawan kelas ku bilang gini "Ambis kali sih, pemburu dolar, 2 kali jam istirahat jualan terus". Untungnya kawan-kawan terdekat cukup mengerti keadaan ku dan malah makin support. sayanggg syekaliiii sama kalian. Aku cukup mampu untuk manage waktu ku, kapan harus serius belajar, main, bantu beres-beres rumah, jualan, organisasi, Alhamdulillah terselesaikan juga kok dan tetap dapat 3 besar di kelas haha.
Percaya atau gak, ketika kita royal sama orang tua kita, rezeki mana sih yang gak Allah kasih. Aku rasain itu di puncak waktu aku masih maba dan aku baru sadar ternyata Allah gak bakal ngasih ujian bertubi-tubi kalau hadianya gak kalah wow juga.
Jadi generasi sandwich kedengarannya kasihan kali yaa, coba di ubah jadi Birrul Walidain. Semua rezeki yang datang ke kita ternyata ada hak untuk keluarga terutama orang tua. Awalnya cukup kesell, kayak "kenapa sih aku gak pernah rasain uang hasil jerih payah ku". Terus aku sadar "Ohhhh mungkin ini cara Allah kali ya kenapa rezeki dan segala urusan ku di permudah". Bahkan, uang beasiswaku juga sengaja ku sisihkan untuk mamak dan menyingkirkan pembelian skincare dan baju itu. Iriiiiii kali pun, di saat kawan-kawan asrama bisa checkout shoppe disaat uang bulanan beasiswa cair wkwk (nia, ini ku pendem selama ini wkwk). Sorry gak ngasih tau bagian yang ini.
Yaaaa rezekinya pas aku kuliah, booom semuanya dapat bahkan sampe sekarang. Belum sidang tapi bisa double job, ngajar sama wfh di perusahaan startup (ini aku bersyukur kali, bisa kenal banyak orang terutama interaksi langsung sama CEO nya), sidang tepat waktu, dospem baiknya minta ampun, pengujinya juga super duper ga galak wkwk, teruss dapat kerjaan sebelum wisuda dengan gaji yang lebih dari lumayan untuk freshgraduate lah ya. Lingkungan kerjanya yang banya ketawanya dari pada stressnya. ya walaupun gaji ku gak full untuk diri aku sendiri. Mungkin hampir 2 juta lebih ku kasih ke mamak untuk keperluan rumah.
Aku gamau mamak ku pusing mikirin uang belanja. Aku sama abg ku juga sepakat, mamak bapak udah gak terlalu kuat untuk kerja, jadi mereka berdua cukup berkebun aja lah di belakang rumah. Dari gaji dua orang, kami sepakat untuk keperluan rumah, beli beras, sayur, gas, token, tagihan BPJS, keperluan sekolah adek ku. Gapapa banget kalau sampai sekarang belum ada tabungan, yang penting mamak jangan sampe sakit dan gak sehat. Aku cuman minta orang rumah ku sehat terus. Gapapa aku cape kerja asal mamak bapak jangan kecapean.
Gapapa juga, aku gak perlu ke cafe untuk nongkrong kayak temen-temen yang lain, beli baju sesekali, beli skincare yang sengaja ku hematin pemakainnya biar tahan 1-2 bulan (Alhamdulillah muka aman gesss tetap cantik wkwk). Aku pending S2 ku untuk beberapa tahun sampe aku benar-benar siap financialnya.
Gapapa banget kalau kita di amanahkan sama Allah untuk jadi anak yang paling bisa di andalkan dalam segala hal entah itu beberes rumah, cari uang, ngusukin, masak, dll. Tugas dan amanahnya cukup berat, makanya Allah pilih-pilih hambanya yang mampu aja. Limited edition kali kau linnn, semoga di kehidupan di masa depan, anak mu gak rasain susahnya cari uang yaa. Pokoknya tugasnya cuman belajar dan jadi anaknya yang baik akhlaknya.
NOTED : Jangan bunuh orang tua kalian karena kegengsian kalian yang harus di turuti semuanya. Pasti ada kok waktunya untuk bisa bahagian diri sendiri. Oh iya mungkin kalian bisa pake prinsip ku yang ini :
"Aku harus kerja keras ini dan itu tapi aku harus tetap jaga kesehatan, main, travelling, ketawa sama kawan-kawan, belajar, ibadah" Management waktu itu penting banget loh wee jadi harus pinter-pinter biar semuanya rata terpenuhi.
Jadi gitu gessss, semoga bermanfaat ya.
Komentar
Posting Komentar